Lara dan Trauma
Menyayat bagai belati yang tak kau inginkan adanya, seperti surat kabar yang tak pernah ingin kau baca, sebab isinya adalah kesalahanmu yang kau pikir orang lain yang jadi penyebab awalnya, namun itu tak pernah terjadi begitu saja. Tentu dunia ini adil pada akhirnya, tak ada yang berjalan tanpa ada pilihan sebelumnya, sebab jika ini adalah ujian tentu kita semua adalah manusia yang akan menjawab ujian tersebut dengan cara kita masing-masing
Lantas ada dalam kondisi merasa tak berharga juga jadi bagian penting dari perjalanan lara dan trauma. Saat kau ada di dalam satu tempat sendirian lalu memecahkan sebuah gelas tentu dirimu sendiri yang akan membereskan pecahan kaca tersebut. Meja atau lantainya bersih dari pecahan kaca namun tanganmu terbeset serpihan beling lalu berdarah. Lara dan trauma.
Siapa yang pantas menyembuhkan lukamu? Dunia tak pernah peduli sampai kau kehabisan cara menyelesaikan ini semua, menyalahkan dunia hanya membuat luka itu semakin menganga. Ini berat dan menyusahkan, namun tak ada yang lebih mampu menyelesaikan ini selain dirimu. Yang dunia apresiasi hanyalah bagaimana kau mampu melewati proses panjang ini. Bukan kegagalanmu jatuh berkali-kali. Lara dan trauma.
Memori yang bagai hantu, bergelayutan di gantungan baju belakang pintu kamarmu, bahkan setelah kau kunci pintunya, trauma itu diam-diam menyeludup masuk lewat kantong celanamu sebelum kau gantung dibelakang pintu. Lara dan trauma tak pernah peduli tempat dan waktu yang tepat. Harimu menjadi berat, menghitung detik lewat ponsel atau arloji di tanganmu, sama sekali tak berpengaruh, dunia diluar sana berjalan, namun setiap detailnya menuntutmu menjadi sempurna. Sedangkan kau tengah merasa dirimu adalah sampah yang sedang terkapar di atas kasur dan selimut yang sedikitpun tak memberimu rasa hangat.
Jika begitu kau tak sendirian aku juga pernah ada disana.
JAKARTA, AKHIR 2024.
Komentar
Posting Komentar