Kamboja merapal dupa
Lampu-lampu dari rumah di ujung jalan sudah menyala, artinya setengah hari sudah berlalu. Hidup hari ini belum selesai, ada malam yang harus di ajak bertengkar setiap hari. Bunga kamboja terselip di daun telingamu tempat yang tepat untuknya bertengger. Bunga itu indah aku menyukainya belakangan ini ditambah dengan anggunmu, sungguh itu syahdu. Walau dari balik layar ponsel ini, hangatnya malam itu terasa hingga kesini, aroma dupa yang menyeruap menyatu dengan udara yang ada di sekitar rumahmu. Mantra-mantra yang kau rapalkan aku amini dari sini. Malam itu hangat. Sedikitpun tidak menganggu bagaimana caraku meyakini bahwa Tuhan itu ada. Aku tidak merasakan perbedaan yang orang-orang teriakkan. Bahkan aku tidak pernah ragu dengan tiap jengkal perasaanku.
Apakah pantas aku bertanya pada Tuhanku dalam sujud? Rasanya tidak perlu. Hingga belasan purnama berlalu, kau masi ada disini, begitupun apa yang kau rasakan dalam tiap derap kakimu, katamu rasanya aku terus membuntuti. Tak akan pernah ada waktu yang tepat untuk sebuah perpisahan. Namun bukankah waktu akan menjadi obat dari setiap luka? Itu katanya. Bukan tidak berlaku, aku tak pernah bisa menelan obat tanpa rasa bersalah. Bagaimana mungkin aku menelan obat untuk luka yang aku inginkan? Kau obat dari luka itu sendiri. Semua orang akan punya potensi untuk saling menyakiti. Begitupun aku. Kau adalah obat yang aku inginkan.
Komentar
Posting Komentar