Aku, kau, senja dan rembulan yang tak bisa di jelaskan.
Menari pada bilangan yang tak bisa kuhitung jumlahnya, benar butuh cukup keberanian untuk menghadapi semua ini, namun bukankah aku cukup berani memulainnya? Bahkan sorot matamu kala itu jelas di benakku saat ini "waktu bukan kita yang punya" itu benar. Banyak hal terjadi namun semua berjalan tanpa arti hanya berjalan sepeti lagu yang kau tak berminat untuk mengerti apa makna nya. Begitu juga aku.
Kau tau sore dengan langit dengan warna jingga loka itu, dulu aku sangat takut kehilangannya, namun kini semua ini justru kutunggu waktu untuk menikmatinya, tepat saat kakiku tenggelam dalam pasir hangat menuju dingin malam yang artinya jingga loka itu akan berganti dengan hangatnya "REMBULAN" Pernah aku berfikir untuk sampai kesana namun mimpi itu seolah tak nyata. Jangankan percaya bahwa aku akan sampai kesana berbagi cerita dengan sesama manusia lain saja tak pernah terpikirkan sebelumnya.
Pertemuan itu tak cukup satu malam, sewindu bahkan tak puas, bagaimana mengendalikannya agar aku tak kalap mata? mempertimbangkan banyak hal rasanya tak punya waktu untuk itu, secepat mungkin keputusan itu musti diambil. Saat ini apakah aku punya kendali atas perasaan itu? apakah ada kecemasan lain? ritmenya tetap tak terkendali. Percis sama! saat pertama dua bola mata kita bertemu yang menyimpan banyak keluh soal dunia.
Nyatanya kita tak pernah memperdebatkan bagaimana aku takut kehilangan senja, dan apa yang membuatmu begitu suka melihat bulan. Tetap kau, aku senja dan rembulan yang tak akan pernah bisa di jelaskan pada orang lain.
Komentar
Posting Komentar