Secarik berdawai hitam

 Dengan secarik kertas berdawai hitam ini, seluruh rencanaku tertulis disini. Malam ke malam, sebagian besarnya aku dedikasikan untuk bagaimana caranya agar aku terus jatuh hati padamu, dengan gayaku. Penuh kesungguhan menuliskannya. Niat dan rencana mulia yang betul sumurnya berasal dari hatiku. Khawatir itu mungkin berkurang namun tak ada satupun yang dapat menghalau seisi kepalaku untuk berhenti berfikir. Bagaimana caranya agar semua ini menjadi seperti apa yang aku goreskan. Bahkan saat mimbar-mimbar keagamaan nyaring bersorak bahwa "hidup tak perlu di khawatirkan"


Kau tau aku dan aku tau siapa dirimu, jauh lebih dalam dari apa yang aku tangkap sebelumnya. Seperti peluk yang lebih erat, seperti dada yang degupnya sama. Nadi yang menyatu dengan ritme yang sama kita rasakan. Tak sekalipun bahuku tak siaga untukmu. Meski kita akan di hadapi dengan keyataan-kenyataan yang tak pernah sekalipun mampu di prediksi dengan akurat. Tak jarang aku meludahi keraguan banyak orang. Pada nyatanya yang entah bagaimana jika panorama itu tak seindah yang kita tuliskan. 


Aku mengartikannya, sama seperti hari-hari yang kita lalui. Bahkan itu sangat berkesan, sama halnya seperti sampai di panorama itu. Aku yakin terkesima itu hanya beberapa menit awal saja. Selanjutnya aku sibuk dengan bola matamu, alismu, bingkai wajahmu, helai rambutmu, mencari lembar tissue untuk menyeka kelopak matamu yang ber-air. Jika kuminta luruskan kakimu, itu caraku untuk kita sama-sama melepas penat. Bukankah kau lupa apa arti panorama ini? bukankah panorama ini indah sebab proses panjang untuk menuju kesana? tempat tinggi yang dapat melihat kebawah tentang apa yang kita lewati? bahkan tentang hari ini saat kau ada mimpimu aku sedang menuliskan ini untukmu. Panorama itu kita berdua. Keindahan yang kita ciptakan sendiri. Yang tak semua orang tau tentang ini dan bagaimana cara menikmatinya. Hanya kita. 

Aku, kamu dan seekor hewan yang aku lupa membicarakan namanya. 

Komentar

Postingan Populer