Berselimut gelap

 



      Malam-malam panjang yang tak berkesudahan. Rasanya malam menjadi begitu tenang untuk di nikmati, bahkan aku terus menikmati rasa bersalah bahwa kenyataannya aku selalu kehilangan pagi dan rasa damainya. Entah apa pasalnya, malam rasanya seperti pulang, memelukku. Seisi kepalaku yang seharian berjuntai menghadapi dunia, selalu pecah saat tepat pukul 12.00 tiba. Pertempuran baru saja di mulai, saat manusia lain menyelesaikan harinya. Aku sibuk dengan pena dan isi kepalaku yang berebut ingin keluar. Lidahku semakin lincah bicara. Orang-orang bilang "tuamu akan rentan" jika terus menghadapi malam. Namun bagaimana mungkin aku bisa terlelap, jika benang kusut dalam kepalaku belum selesai aku lepaskan satu per satu simpul kusutnya. Aku hidup dengan harapan yang kubuat sendiri, aku hidup dengan orang-orang yang mengerti bagaimana aku menghadapi ini. Kita tidak pernah tau bagaimana cara kita “mati” nanti. Setidaknya jika aku “mati” aku pergi dengan berlumur cinta dan taburan bunga dari tangan yang aku tunggu datangnya. 


Jakarta, akhir november 24.

Dini hari.


Komentar

Postingan Populer