Semilir dan manusia
Semilir berayun dari satu ruang ke ruang lainnya, di tunggu datangnya jika panas terlalu mendominasi, sama halnya dengan manusia yang tak pernah menetap, bagai semilir datang membawa angin segar pergi meninggalkan lengang, berkeringat. mengeluarakan bulir bening seperi ice kopi hitammu yang mulai mengikuti suhu ruangan. keasyikan menjalani hingga kita lupa memberi tajuk perjalanan ini, hingga ketika sampai pada pertigaan kita bingung harus membelokkan kemudi ke arah mana. Maka perjalanan ini akan lah tetap dengan maknanya sendiri sebab akulah manusia yang bisa saja meromantisasi setiap sudutnya. Terdengar begitu menyebalkan, bahwa seolah tak ada lagi celah untuk merasakan sesuatu dengan lega lebih lama. hidungku selalu dibuat berkeringat saat berfikir, dan itu akan kentara. Ada yang sesuatu sejatinya sudah seperti itu adanya bukan tentang dengan siapa dia bersama untuk melanjutkan perjalanan, perlu disadari bahwa kenyataanya kita adalah yang menarik sebab kita menjaga hal kecil yang kita punya dengan sepenuh hati. Kita punya diri kita sepenuhnya, walau seringkali harus memeluknya sendiri saat kelelahan. Pada akhirnya semua makna yang tengah kita cari artinya akan datang pada waktu yang tak pernah dapat kita tentukan, makna punya rentang waktunya sendiri. Hingga saat ini pun masih banyak makna yang berbolak balik artinya, namun bukankah itu sesuatu yang harus kita sediakan tempat luas untuknya? masi ada sekian kopi pahit selanjutnya, music-music menenangkan yang kau lupa bahwa itu adalah waktu yang tepat untuk memutarnya berulang kali, aku berjalan diatas kakiku dengan lambung yang murung, kafein menggerogotinya aku kadang malah lupa bahwa ia juga punya hak untuk diberi asupan layak, soal ini aku bisa kalah oleh rasa lapar lebih mementingkan imajinasiku. Sebagai makhluk subjectif kita selalu mementingkan "kita". Itu kelemahan yang juga berjalan dengan kebaikan-kebaikan berikutnya. Hingga akhirnya semilir dan manusia tetap bersama. Sama halnya dengan lebih dan kurang, dengan malam dan siang. Tentulah yang paling beruntung ia yang menjaga bagian kecil yang ia punya, sepenuh hati dengan hati itu sendiri.
BUMI JAWA / Jakarta 24.
Komentar
Posting Komentar