Rembulan yang percis sama
Malam itu hangat tanpa tapi
agustus Tahun lalu, angin malam menusuk hingga ke tulang, melewati jalan kesukaanmu. Bulan sumgringah di atas sana. Entah menertawakanku “Suatu saat aku akan kehilangan indah rembulan dan merindu, bagai tertusuk angin ini” Barangkali itu ucapnya jika pandai bicara. Tepat hari ini semua lewat bagai gambar yang begitu jelas di kepalaku, bahkan sampai aromanya percis sama. Atau pikir baikku, justru rembulan turut bahagia memeluk kita.
Aku masih ingat detailnya, ayam goreng kesukaanmu, kita memuji pria paruh baya yang selalu senepuh hati melayani. Sumgringah wajahnya selalu serupa sejak awal. Es jeruk kesukaanku? Kau selalu salah bukan? Saat memesan minuman. Alih-alih asal memesan kau tau punyaku akan jadi milikmu jika kau mau.
Malam ini disini, bulan percis sama, seperti malam itu. Bulatnya belum sempurna, sebagian tertutup awan, bagaimana disana? Bulan yang kau nikmati, masih memberimu senyuman? Se hangat malam itu?
Harusnya namamu bukan rembulan di hidupku, itu keliru yang paling kelu, sebab dimana malam tanpa rembulan rasanya akan begitu kurang. Dan jika aku merasa terluka lalu berdoa yang tidak-tidak. Semua orang akan marah, sebab banyak orang menunggu purnama datang, dan aku malah berdoa yang tidak-tidak. Celaka.
Jakarta. 21 agustus 24.
Komentar
Posting Komentar